Predikat “The Most Successful Virtual Band” dari Guinness Book of Record kembali dipertaruhkan Gorillaz saat merilis “Plastic Beach”. Alvin & The Chipmunks, Dethklok, dan internet-bands belum dapat menyaingi kesuksesan Gorillaz. Gorillaz terlalu berbahaya.

Damon Albarn dapat melepaskan dirinya dari predikat pop-star ’90-an era Blur menjadi musisi yang disegani bahkan lebih sukses dari sebelumnya. Ini belum dapat dilakukan oleh rivalnya pada saat itu, Oasis.
Albarn menambah amunisi eklektiknya berkat kolaborasi dengan musisi kawakan (Lou Reed, Mark E. Smith, Bobby Womack, Snoop Dogg, De La Soul, Mick Jones, Paul Simonon), musisi berbakat (Little Dragon, Kano, Bashy), dan musisi tak dikenal (Sinfonia ViVA, The Lebanese National Orchestra For Oriental Arabic Music).
Sempat beredar kabar Gorillaz berkolaborasi dengan Barry Gibb (Bee Gees) dan The Horrors namun tidak berhasil masuk ke daftar lagu album ini. Mudah-mudahan saja sebagian dari 70 lagu tersisa yang ditulis Albarn akan dirilis dalam bentuk B-Side.
Pencipta karakter Gorillaz, Jamie Hewlett juga tidak kalah kreatif. Gabungan animasi 3D (CGI) dan Live Action yang sempat muncul sedikit era album “Demon Days” mendapat porsi lebih dominan lagi. Menjelang rilis album, Gorillaz juga memberikan potongan klip (teaser) konseptual via Youtube. Mungkin nanti secara perlahan akan tersingkap utuh sebagai cerita album ini.

Albarn menekankan bahwa “Plastic Beach” bukanlah album tentang lingkungan hidup. Tapi sebuah tempat dimana kita bisa melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Dan album ini adalah soundtrack-nya.
Saking banyaknya musisi tamu tampil di album ini sehingga porsi vokal Albarn tidak mendominasi seperti rilisan Gorillaz sebelumnya. Namun dia tetap memimpin proyek kolektif ini.
Begitu banyak warna baru dari album ini. Contohnya seperti lagu “White Flag” dengan melodi eksotis dari The Lebanese National Orchestra kemudian disalip dengan dentuman beat hip-hop dan Casio tones.
Albarn tetap mempertahankan karakter vokalnya seperti anak kecil yang tersesat di lagu “Rhinestone Eyes”, “Empire Ants” dan “On Melancholy Hill”. Duet yang menarik dengan Little Dragon dapat di simak juga di lagu “To Binge”.

Bassline hipnotis a la Giorgio Moroder di lagu “Stylo” yang terkesan monoton, tapi cukup mengejutkan saat mendengar performa Bobby Womack yang belasan tahun sudah tidak mengeluarkan album. Bahkan diberitakan Bobby langsung pingsan setelah merekam vokalnya di lagu ini.
Energinya yang terkuras itu mengantarkan kita pada track selanjutnya “Superfast Jellyfish” yang lebih terasa urban-pop dan rada jenaka. Menurut saya lagu yang paling rusuh di album ini adalah “Glitter Freeze”. Mungkin akan menjadi favorit para DJ untuk melakukan versi remix-nya.
Lou Reed memberikan performa ciri khas ignorant-New-Yorkers di lagu “Some Kind of Nature”. Saat merekam vokalnya Lou mengusir semua orang di studio karena dia ingin melakukannya sendirian. Hasilnya menjadi salah satu lagu favorit saya di album ini.
Bisa dibilang tidak ada lagu yang muncul sebagai jagoan di album ini. Mungkin tidak ada hits-single yang dapat mendominasi papan Billboard. Di sisi lain, album ini terkonsep dengan apik. Tiap track di album ini memiliki porsi yang setara. Tidak seburuk album dengan 1 lagu hits dan 9 lagu tempelan.
Add a comment
Archived old comments. Please use the new comment form.