I Tweak Therefore I Am

(1) Apakah factory-patch dalam soft-synth mendikte sound yang anda hasilkan?

Jika anda sudah mengenal lama segala hal tentang digital recording, home recording, computer-music, pasti sudah letih menemui pertanyaan ini. Saya punya pertanyaan yang dilematis lagi:

(2) Apakah soft-synth mendikte sound yang anda hasilkan?

Biasanya dalam karya-tulis, desertasi, atau makalah kuliah pasti dimulai dengan latar belakang. Dijabarkan terlebih dahulu penjelasan tentang semua pernak-pernik, tetek-bengek, bla-bla tentang digital recording dan computer music. Saya malas. Jika anda belum tahu apa-apa tentang software musik silahkan buka Google atau Wikipedia.

Menanggapi pertanyaan (1), factory patch memang disediakan oleh setiap soft-synth. Tujuannya agar dapat memberikan preview kemampuan soft-synth yang anda miliki. Bukan hanya itu, factory patch sering pula dibumbui dengan setting-an sound dari musisi atau lagu populer. Prakteknya, cukup satu klik, suara synth dari Kraftwerk pun sudah anda dapatkan. Selamat datang di dunia musik digital!

Ada beberapa musisi yang menyambut gembira ‘kecanggihan’ ini dan ada pula yang tidak. Brian Eno dan Trent Reznor adalah sedikit musisi yang tidak manusiawi dalam memperlakukan synthesizer. Bongkar pasang, modifikasi, menyalah-artikan input, bahkan membakar buku petunjuk dan menghapus factory-patch dari memori. Kemudian mereka membangun ulang sound, mencari ‘jati diri’ secara acak, dan menemukan potensi tersembunyi dari synthesizer.

“Wuidih, susah banget tuh,” pikir anda. Tidak juga! Justru menyenangkan. Well, anda tidak harus membongkar perangkat synth anda dan membuatnya korsleting sehingga jadi barang rongsokan. Setidaknya dapat anda praktekkan dalam soft-synth.

circuit bending

Saya sadar, kebiasaan memakai software bajakan memang tidak mendidik. Bukan berarti saya melarang lho. Tapi lebih pada kebiasaan buruk dalam memperlakukan soft-synth tersebut. Dengan mudahnya anda dapat mengkoleksi semua soft-synth rilisan Native Instruments senilai jutaan rupiah dengan harga merakyat, tapi apakah anda sempat untuk mengenali seluruh kemampuannya?

Justru masih lebih mending ada orang yang hanya mampu membeli satu software original dan diulik habis-habisan. Tapi hati-hati, misalnya anda menggunakan software CubaseSX atau setaraf profesional lainnya, kemudian anda bertanya hal sepele tentang cara penggunaannya di web-forum resmi atau web-forum internasional. Justru anda akan dicela dan dimaki karena orang lain tahu anda menggunakan software bajakan. Sudah jelas CubaseSX itu adalah software profesional, kalo nggak tau cara pakainya, jangan beli.

Oke, lanjut pertanyaan (2). Sudut pandang ini saya dapatkan dari hasil wawancara Joe Barresi (engineered/mixed/produced Queens of The Stone Age, Skunk Anansie, Bad Religion, Bauhaus, Anthrax, dll) dalam majalah Sound On Sound edisi Juli 2005. Prinsip kerja Joe untuk menangani semua band tsb adalah tidak pernah memakai formula yang sama, bahkan tiap album dari musisi yang sama pun harus berbeda. Untungnya Joe mempunyai koleksi hardware analog yang bejibun! 250 pedal-gitar, 45 gitar, 75 ampli, 30 mikrofon, dan hardware lain yang tidak terhitung jumlahnya. YUP! Anda menemukan kata kuncinya: Eksperimental!

Pengguna fanatik software FLStudio pasti sudah mengenali karakter sound dari album “Love And Turbo Action” dari Goodnight Electric. Tapi tahukah anda kalo Nine Inch Nails pernah menggunakan software yang sama?

Okelah saya mengaku kalo kalimat terakhir tadi hanyalah sebuah teori konspirasi. Tetapi berdasarkan fakta bahwa salah satu engineer NIN, Steve Duda disponsori oleh FLStudio. Jadi mungkin saja kan.. tapi kita nggak akan pernah tahu pasti karena album-album NIN tidak ketara sama sekali karakter FLStudio-nya.

Hobi bereksperimen dan tidak takut untuk memutar knob yang salah juga ada hikmahnya.

Itu juga prinsip yang dipegang oleh Joe Barresi. “Jika semua orang menggunakan Waves Metaflanger, maka semua rekaman akan terdengar sama,” ujarnya.

Lalu apa relevansinya dengan soft-synth? Seperti yang udah disinggung di paragraf sebelumnya, saya tidak melarang software bajakan. Saat ini sudah tersedia ratusan soft-synth berupa program standalone maupun plugin yang dapat didownload atau beli di toko langganan. Jika anda tidak peduli dengan beban moral/sosial memakai produk bajakan, maka anda akan merasa nyaman hidup di Indonesia. Tapi apakah anda punya kemauan ‘bersusah payah’ seperti itu? Sudah saatnya anda beranjak dari pangkat amatir bukan?

*Glossary
+Software-Synthesizers atau Soft-Synth: istilah umum untuk semua jenis synthesizer dan instrumen virtual berupa program komputer. (eg. Sytrus di FLStudio, NN-XT di Reason, Absynth, Virsyn TERA, dll)

+Factory Patch atau Factory Preset: knob-knob yang sudah diatur dan disediakan oleh pabrikan untuk menghasilkan karakter suara tertentu.

+Standalone: berdiri sendiri. Biasanya harus melalui proses instalasi seperti software umum lainnya tanpa menggunakan host.

+Plugin: tidak berdiri sendiri. Butuh host/DAW untuk menjalankan program jenis ini. Kadang tidak harus diinstall, tapi cukup copy-paste pada lokasi folder yang ditentukan.

Recommended articles for you

Add a comment




Archived old comments. Please use the new comment form.