Tiga gitaris tenar hadir di film dokumenter karya Davis Guggenheim yang sebelumnya juga pernah membuat film “An Incovenient Truth”. Entah apa kriteria sang pembuat film untuk menampilkan The Edge, Jack White, dan Jimmy Page sebagai tokoh utama.
Sebagian dari Anda yang terlena dengan kelincahan jemari Joe Satriani, Steve Vai, Eddie Van Halen, dan Yngwie Malmsteen mungkin bakal protes. Silahkan saja layangkan suara Anda di posko terdekat. Persetan!
![]()
Tiga tokoh utama ini juga bukan tipe gitaris karbitan. Tidak sedikit kontribusi Jimmy Page di dunia rock n’ roll. The Edge memang tidak terlalu dikenal akan kelincahan jemarinya, tapi riff dan permainan efek delay-nya menjadi ciri khas dari banyak hits milik U2. Jack White adalah pahlawan generasi baru yang memiliki mentalitas dari era mesin telegraf.
Tiga karakter tersebut diperankan Jimmy Page mewakili sang maestro. The Edge mewakili gitaris melek teknologi. Jack White hadir sebagai gitaris renaissance yang haus ilmu.

Melihat poster di atas saya merasa sedikit janggal dengan pemilihan foto Gibson Les Paul Custom. Bagi saya Gibson SG Double-Neck yang digunakan untuk lagu “Stairway To Heaven” itu ikonik dengan Jimmy Page. Dalam film ini juga tidak terlihat gitar tersebut.
Tidak ada yang spesial dengan Gibson Explorer-nya The Edge, karena lagi-lagi bagi saya model Explorer itu identik dengan James Hetfield of Metallica. Dalam film ini pun justru fokus pembicaraannya ke rangkaian puluhan efek yang digunakan The Edge. Namun tidak terlalu dibahas detil juga jalur sinyal (routing) dalam filmnya. Bisa habis 2 jam hanya membahas soal itu.
Jack White menunjukkan cara merakit gitar dari barang rongsokan, berkelahi dengan gitar, dan juga cerita saat dia mendapatkan gitar Kay Hollowbody. Dan scene favorit saya adalah gitar Gretsch Custom miliknya yang penuh darah setelah konser The Raconteurs.
Ketiga gitaris ini menarasikan jalan kehidupan mereka masing-masing. Sikap dan filosofi mereka cukup terefleksikan di film ini. Terdengar jelas pula perbedaan kemampuan story-telling mereka. Meski demikian mereka adalah gitaris handal bukan pendongeng.
Sekali lagi Jack White terlihat fasih dalam melakukan interview dan menancapkan ideologinya. Jimmy Page yang mempunyai pengalaman lebih justru hanya terlihat banyak tersenyum jumawa saja. Sedangkan The Edge terlihat santai dan berlelucon.
Film ini juga menceritakan hal yang menginspirasikan ketiga gitaris ini. Momen yang membuat mereka terpaku dan memotivasi mereka untuk bermain gitar. Momen yang membuat reaksi intuitif memainkan teknik ‘air-guitar’ seolah mengiringi lagu yang diputar.

Melihat ketiga gitaris ini berkumpul bersama dan jamming adalah kesempatan yang langka. Tapi sayangnya hanya ditampilkan beberapa cuplikan saja di film ini.
The Edge nampak biasa saja saat bermain bersama dua gitaris blues lainnya. Seperti yang terjadi saat mereka memainkan slide guitar. Duo Jimmy dan Jack terlihat lebih menggigit. Tapi memang sesi tersebut tidak bermaksud unjuk bakat yang berlebihan. Mereka gitaris yang cukup bijak dalam soal ini. Saya percaya skill mereka jauh lebih edan daripada yang terlihat di film ini.
Film dokumenter ini bukan tutorial memetik dawai a la rocker. Berikut tulisan yang ada di websitenya: It Might Get Loud might not affect how you play guitar, but it will change how you listen.
Add a comment