John Frusciante: The Empyrean

Jika saya tidak salah mengingat potongan informasi dari mata kuliah Kritik Seni, yaitu tentang metode analisa karya seni pada awalnya hanya dinilai secara formal (warna, bentuk, garis, dan tekstur) terlepas dari konsep karya dan latar belakang senimannya.

Bahkan ilmu kritik seni itu sendiri baru muncul diabad ke-18. Mungkin inilah salah satu alasan para pematung dari zaman Yunani kuno tidak setenar cendekiawan seperti Socrates, Plato, Aristoteles, dll. Saat itu seni hanya dilihat sebagai craft, kerajinan, atau pertukangan.

Saat ini, konsep dan latar sang seniman itu pun dapat menjadi objek kritik. Oleh karena itulah kisah kehidupan dan sejarah Vincent Van Gogh hingga Lindsay Lohan menjadi aspek yang menarik di jurnal seni atau tabloid gosip ketimbang hanya menilai formal karya mereka. Di era ‘add comment’ saat ini, siapapun bisa menjadi kritikus dan mengungkapkan buah pikirannya pada dunia seberapa pun bodohnya itu.

TOOLS AND SKILLS ARE USELESS WITHOUT IDEAS

Paragraf di atas itulah yang menjadi latar tulisan review album solo ke sepuluh dari John Frusciante “The Empyrean” yang dirilis Januari 2009 lalu.

Dikenal sebagai salah satu musisi yang aktif merilis album, entah itu bersama Red Hot Chili Peppers, berkolaborasi dengan The Mars Volta dan juga solo-projectnya. Bahkan Frusciante pernah membuat 6 album hanya dalam waktu 6 bulan.

Status selebritasnya muncul sejak album RHCP “Mother’s Milk” dan album monumental “Blood Sugar Sex Magik” meski umurnya belum genap 20 tahun. Dan popularitasnya kembali naik saat bergabung kembali dengan RHCP di album “Californication” sejak tenggelam dalam narkotika.

John Frusciante

HARMONIC SURPRISES

Frusciante selalu mencoba hal yang beda dalam berkarya. Mulai dari style heavy-metal shredding funkmachina, electro-geek, hingga gitaris folk yang melankolis. Anda dapat mendengar semua itu dari rilisan solo-project dan RHCP. Rolling Stone Magazine pernah menobatkannya sebagai The New Guitar Gods.

Perannya sebagai backing vocal di RHCP membuatnya paham akan harmoni. Hobinya mengkoleksi perangkat audio berupa deretan stompbox atau modul Doepfer Synth juga memberikan banyak pilihan untuk mewarnai kanvasnya.

Solo-album memberinya kuasa dalam proses kreatif. But tools and skills are useless without ideas, and Frusciante knew that already.

Ekspektasi saya langsung terpenuhi saat pertama kali mendengar album ini. Teknik gitar di atas rata-rata tapi tetap menjunjung emosi ketimbang virtuosity. Folk-ish acoustic guitar diberi sentuhan psychedelic electronica dan permainan bass ciamik dari Flea di beberapa lagu. Selain itu ada juga Johnny Marr (The Smiths, Modest Mouse) dan Josh Klinghoffer (long-time collaborator) yang hadir dalam album ini.

Jadi apakah tidak ada kejutan di album ini? Menurut saya, iya.. but only if you’ve listened to all his discographies. Newcomers would surely be surprised listening to his records because it’s completely different than RHCP. Even way better than the Chad Smith’s project “Chickenfoot” with Sammy Hagar, Michael Anthony, and Joe Satriani.

Although I’m not fully excited about this album rather than his previous releases, I don’t blame him just because he’s trying to be himself.

Recommended articles for you

Add a comment




Archived old comment. Please use the new comment form.