Lexicon MPX1

Meski dirilis sejak akhir tahun 1996, tidak layak jika Lexicon MPX1 disebut sebagai efek digital yang sudah basi. Efek ini memiliki kualitas yang menakjubkan bahkan menjadi nostalgia tersendiri bagi para musisi dan sound engineer kawakan.

MPX1 ini sudah tidak diproduksi lagi. Tapi dinyatakan dalam website Lexicon masih memberikan support untuk MPX1. Saya kurang mengerti bentuk support itu seperti apa, karena dari daftar instruksi manual yang bisa di download itu sudah cukup lengkap. But then again, it’s still good to have support from them.

Sebelumnya, saya memakai stompbox analog dan VST plugin untuk mendapatkan efek yang saya butuhkan. Tapi kali ini saya cukup beruntung dapat memiliki efek rack ini.

THE TECHNOLOGY

Brand Lexicon sudah dikenal sebagai manufaktur efek reverb digital terkemuka. Di dalam unit MPX1 ini terdapat dua buah chip Digital Sound Processing (DSP). Salah satu chip DSP (Lexichip) itu didedikasikan untuk mengolah algoritma sound reverb yang kompleks. Chip DSP lainnya bertugas untuk mengolah efek Pitch, Chorus, EQ, Modulation, dan Delay.

Algoritma reverb digital berkualitas biasanya membutuhkan banyak kekuatan processing. Dengan adanya chip khusus ini, MPX1 dapat menghasilkan reverb tanpa mengorbankan kekuatan untuk mengolah efek lain. Tapi jika telah melampaui batas kemampuan prosesor pada program yang kompleks *sangat-sangat kompleks* akan muncul tulisan “Won’t Fit”.

MPX1 dapat digunakan untuk berbagai sumber suara seperti gitar, drum, vokal, synth, dll. Lalu input dan output efek ini adalah stereo atau dual-mono dengan koneksi balanced, unbalanced, atau digital SPDIF.

Proses internal MPX1 bekerja dalam resolusi 32-bit. Resolusi tersebut masih digunakan oleh banyak efek hardware saat ini. Tapi MPX1 masih terasa lebih bagus di telinga saya dibandingkan 64-bit VST plugin favorit saya sekalipun. Terasa kinerja efek digital lebih kepada faktor kelihaian programming bukan dalam faktor jumlah bit semata.

Lexicon MPX1 Effect List

PITCH: Detune • Shift • Volume • Test Tone
CHORUS: Chorus • Flanger • Phaser • Rotary Ca • Aerosols • Orbits • Centrifuge • Comb
EQ: 1 to 4 Band • Sweep Filter • Wah • Fc Splitter • Crossover • 2-Tone • 3-Tone
MODULATION: Panner • Auto Pan • Tremolo • Overdrive • Volume
DELAY: Delay • Echo • Looper • Ducker
REVERB: Chamber • Hall • Plate • Gate • Ambience

Selain amunisi efek yang diharapkan (chorus, flanger, phaser, delay, dll.), MPX1 juga memberikan fitur ekstra seperti Test Tone, Frequency Splitter, Crossover, Wah, dan Overdrive. Bagi saya efek Wah dan Overdrive di sini tidak cocok sebagai efek utama sound gitar. Tapi dapat memberikan ‘karakter’ ke dalam tesktur efek pada porsi yang tepat.

THE INTERFACE

Dimensi efek ini membutuhkan ruang rack standar 1U (483 x 45 x 289 mm). Layar indikator cukup jelas terlihat dan label tombol yang mudah terbaca meski alat yang saya review ini berumur lebih dari 10 tahun. Demikian juga dengan semua soft-button, rotary knob, dan konektornya masih terasa mantap.

Desain efek rack digital yang bisa kalian lihat pada umumnya mencoba untuk menyeimbangkan fitur yang banyak dengan tampilan luar yang efisien dan mudah untuk dipelajari. Bayangkan jika semua parameter diberikan knob independen, alat ini akan sama besarnya dengan synth Moog. Cukup beberapa tombol navigasi dan tombol yang sering digunakanlah yang sebaiknya terlihat.

Quirky Little Thing

Disediakan 200 factory-preset dan 50 user-preset. Namun sudah selayaknya kita tidak bergantung pada preset yang ada (but it’s still got lots of cool presets). Tapi menurut saya untuk patch editing masih terasa relatif sulit karena interaksi beberapa tombol dan knob rotary terasa kurang intuitif.

Kesulitan editing ini dapat diatasi dengan software MPX1_V1.exe melalui koneksi MIDI. Menurut manual-nya software tersebut hanya dapat dijalankan di Windows 3.1 dan Windows 98. Tapi saya masih bisa memakainya di Windows XP SP3. Saya kurang tau untuk Windows versi lainnya. Tidak ada versi MacOS.

Selain itu, tombol Mix, Patch, Bypass, A/B, Tap Tempo, dan knob volume masih sangat berguna. Lampu indikator menyala pada patch yang digunakan. Bahkan kita dapat mengetahui info singkat dari tiap tombol jika ditekan lebih lama tanpa merubah preset. Very useful little details.

Sayangnya tiap perpindahan preset MPX1 terasa ada jeda satu-dua detik. Dalam situasi recording atau mixing hal ini tidak terlalu menjadi masalah, tapi untuk kebutuhan live performance harus ada kompromi.

HIDDEN POWER

Sampai di sini mungkin anda masih punya pertanyaan: “Apa bedanya Lexicon MPX1 dengan efek digital lain?” atau bahkan pernyataan “Ah, saya tidak suka efek digital. Titik.” Saya kurang mampu untuk menjawabnya dan saya juga tidak peduli. If it sounds good then it is good.

Bagi saya MPX1 tidak hanya menghasilkan suara efek yang keren. Masih ada fitur yang membuat saya betah untuk menggunakan efek ini, yaitu fitur routing yang fleksibel.

MPX1 memiliki jalur internal stereo/dual-mono meski sumber sinyal input yang diberikan adalah mono. MPX1 secara internal merubah sinyal menjadi stereo (left & right) berjalan secara paralel. Jadi, tiap jalur tersebut dapat diberikan program efek yang berbeda kemudian di mix bersamaan pada rantai sinyal terakhir.

Misalnya untuk sinyal left diberikan efek chorus dan delay, sinyal right diberikan efek phaser, kemudian pada rantai stereo-mix terakhir kita berikan efek reverb. Urutan tiap efek itu pun bisa kita rubah seperti layaknya merubah urutan stompbox.

Tiap parameter efek tersebut dapat dikontrol melalui fungsi LFO, input envelope, expression pedal, MIDI data, arpeggiators, random function generators, dan lainnya.

Efek ini masih relevan dengan teknologi saat ini. Karena tidak ada efek yang jelek. Hanya butuh sumber daya manusia agar mampu menggunakannya dengan kreatif dan optimal.

Tidak akan cukup tulisan satu artikel ini untuk membahas semua fiturnya. Butuh berbulan-bulan bagi saya untuk menguasai penuh MPX1 ini. Fun times ahead!

Recommended articles for you

Add a comment