Januari 2010 lalu, sebuah band ‘eksperimental’ —saya rangkum dari istilah shoegazing-space-ambient-post-noise-rock— dari Jakarta, Sarin merilis EP kedua mereka yang berjudul “Let It Go Before It Kills You”. Seperti apa proses kreatifnya? Silahkan baca selengkapnya.
Meski lagu-lagu dalam EP tersebut adalah materi lama atau demo yang direkam dalam kurun waktu 2007-2009 tapi tidak mengurangi minat saya untuk mendengarkannya. Berikut hasil interview saya dengan seorang multi-instrumentalis dari Sarin.

Nama Donny Rizky LM tapi sering dipanggil Coxon, Ucox dan kadang Cokon.
Latar belakang di dunia komunikasi khususnya advertising, tapi terjerumus ke dunia disain grafis.
Saya kenal gitar awal 1998 dan saat itu masih penggemar berat Backstreet Boys dan Bed & Breakfast.
Lalu dibaptis lepas dari boyband ketika masuk kuliah tahun 2000 untuk dengerin musik-musik band a la Britpop (meski masih colongan denger N’Sync). Sangat menyukai Blur (no wonder where I got my nick’s) dan The Cure.
Meskipun agak telat, tahun 2001 mulai menyukai musik minoritas tahun 80-90an (My Bloody Valentine, Slowdive, Cocteau Twins, dll) dan mulai ngeband dengan influens yang sama sebagai gitaris dan part-time keyboardis di band kampus dengan nama Belladonna.
Wah terima kasih telah menyukai lagu tersebut. Inspirasi lagu tersebut datang setelah melihat live video dari Sigur Rós – Track 4 (kalo gak salah di acara sejenis “the late nite show”), mood lagu tersebut masih terngiang-ngiang cukup lama di kepala.
Ketika ada kesempatan di rumah teman (kebetulan ada upright piano) saya ngulik-ngulik a.k.a ngasal main lalu keluarlah nada-nada cikal bakal lagu “Faded Memories”.
“Faded Memories” materi ketiga dan terakhir yang take di studio (tahun 2007) dan bisa dibilang kurang persiapan karena finishing aransemennya baru dilakukan di studio. Karena kurang persiapan tersebut akhirnya sebagian besar aransemennya saya yang mainin (keyboard, gitar, strings).
Lagu tersebut di touch up oleh Vanco (sound engineer Efek Rumah Kaca, Morning After, Clover, dll) yang kebetulan memang bekerja sebagai operator di studio tersebut.
Wah saya gaptek soal beginian main gitarnya aja ngasal kok hehehe… Mungkin bagi saya Tone = Mood.
Saya bermain gitar menggunakan mood bukan menggunakan skill. Memang skill bermusik saya bisa dibilang pas-pasan ato di bawah rata-rata tapi nada-nada yang saya mainin bisa menciptakan suasana sendiri bagi saya dan orang yang mendengarkannya, mungkin itulah pengertian “tone” dalam kamus saya.

Instrumen yang sering saya pake:
Signal routing: Guitar › Boss Heavy Metal › (DIY) RedFuzz + Ampeg Scrambler (combined) › Ibanez SoundTank Chorus › Behringer Delay › Behringer DD-400 › (DIY) OCD ‘Voodoolab’ OD › Digitech-X Reverb › Looper ke Kaosspad 3 › Amplifier
Itu adalah impian orang awam ketika melihat gitar Matthew Bellamy (Muse). Awalnya saya engga tau itu mahluk apa tapi berkat adanya internet dan orang-orang yang share tentang modifikasi benda tersebut akhirnya saya niat untuk membuatnya sendiri. Setelah hunting lebih dari 1 tahun saya berhasil mendapatkan KP-1 dan memodifnya menjadi KaossPad Guitar.
Cara menggunakannya sih tidak sulit, cukup menggesekan touchpad setelah membunyikan nada di gitar dan akan menghasilkan sound seperti synthesizer. Sayangnya KP-1 memiliki banyak keterbatasan sound jika dibandingkan dengan KP-2 dan KP-3.
Tapi saya cukup bangga pernah memodif dan menggunakan instrumen tersebut. Sayangnya sekarang rusak. Power dan bypass-nya nyala tapi fungsi efeknya tidak.
Ini adalah impact dari hasil memodif KaossPad. Saya mendapat banyak link tentang pembuatan efek ditambah lagi ada forum lokalnya dan tentu saja blog anda dengan deskripsinya yang sangat jelas hehe. Setelah melalui beberapa trial n’ error akhirnya saya berhasil membuat efek sendiri.
Meskipun masih belum mengerti istilah dan fungsi komponen-komponen yang ada tapi saya berniat untuk membuat clone fx dan mungkin suatu saat saya bisa membuat signature dan disain saya sendiri (amin).
Pengennya sih bisa main biola tapi ternyata itu sangat sulit dan akhirnya cuma jadi hiasan kamar aja (padahal biola pinjeman). Saya suka main piano, meskipun ngasal tapi serasa tidak ada nada fals di setiap tuts-tutsnya (mungkin karena itu harganya sangat mahal ya? Hehe).
Instrumen selain gitar yang saya gunakan adalah Korg NanoKeys dan keyboard jadul yang engga retro atau vintage (bingung kan?).
Ya, tentu saja memainkan berbeda instrumen sangat mempengaruhi kreativitas saya sebagai songwriter. Tipe musik yang keluar sangat berbeda ketika saya memainkan piano, gitar ataupun keyboard. Piano membuat saya cenderung membuat aransemen pop, keyboard lebih ke electro, gitar tanpa efek menjadi sok-sok-an klasik dan gitar pake efek mengarah ke eksperimental/noise.
Waduhhh awam nih tapi dicoba untuk menjawab deh:
Download secara gratis album Sarin – “Let It Go Before It Kills You” via Last.fm.
Add a comment