“A good composer does not imitate. He steals” – Igor Stravinsky.
Bisa saja Anda merubah kata ‘composer’ di atas menjadi painter, writer, director, stock broker, lawyer, blogger, dreamer, atau apapun, karena esensinya hampir serupa.
Ajaran agama apapun melarang perbuatan mencuri (although they sold a shitload of copies of God’s words). Jadi tidak berarti kata ‘mencuri’ bisa dilempar ke lembah nista, tergantung dari cara kita melihatnya.
Kembali dalam iringan nada, cukup banyak kasus pencipta lagu atau band yang dituding menjiplak karya orang lain. Entah saat bikin lagu mereka memang lagi mentok dikejar deadline rilis, dipaksa sang produser, terinspirasi, atau sekedar kebetulan semata.
Ada yang berani mengakuinya, ada yang mengelak, dan ada juga yang menyalahkan pada tangga nada (western scales) yang hanya berjumlah 12 biji itu. Do they know how to count?
![]()
Berapakah jumlah maksimum lagu yang dapat diciptakan meski hanya menggunakan 12 nada tersebut? Hanya dengan asumsi lagu itu hanyalah kombinasi melodi, anggaplah kita akan membuat sebuah lagu di piano hanya menggunakan satu jari.
Dari 88 tuts piano kita dapat memainkannya dalam –sebut saja 10 cara (not penuh, not setengah, staccato, dll). Maka akan terdapat 88 x 10 = 880 cara untuk memainkan lagu dengan satu jari.
Mungkin rada membosankan, jadi kita tambahkan not kedua dilagu ini, yang juga memiliki 880 cara. Sehingga ada 880 x 880 = 774.400 kombinasi not yang bisa kita mainkan.
Kita pun belum mulai menghitung kombinasi instrumen, lirik, ritme, dan tempo yang ada di lagu. Jumlah kombinasi ini bisa melonjak jauh melampaui angka googol (10^100). Bandingkan dengan umur bumi yang hanya berumur 10^17 detik.
Alangkah kaya raya-nya seseorang yang memiliki hak cipta untuk satu not saja. Jauh lebih bernilai dibandingkan lagu “Happy Birthday” yang ternyata juga dituduh menjiplak.
Meski jumlahnya tidak habis sepanjang zaman, hanya sebagian dari kombinasi tersebut memiliki harmoni dan struktur yang bisa diterima oleh selera pada masa tertentu.
Ini berita baik bagi para pencipta lagu yang masih memiliki hasrat untuk menciptakan sesuatu yang baru, menarik, bahkan blum pernah ada sebelumnya. Atau bencana untuk sebagian yang merasa tertekan untuk sukses. Sekali lagi tergantung cara pandang mereka.
Ada kecenderungan kita membandingkan sebuah lagu/band baru dengan lagu/band yang sudah muncul duluan yang dianggap memiliki style serupa. Saya rasa sikap ini justru akan berbahaya bagi band baru tersebut. Akan lebih baik jika kita menilai impresi langsung yang kita dapat saat mendengar lagu itu.

Misalnya seperti lagu “Lilac Wine” yang pernah dibawakan oleh Eartha Kitts, Nina Simone, Elkie Brooks, Jeff Buckley, atau Katie Melua. Masing-masing performer tersebut memberikan sentuhan original bahkan tiap pendengar mempunyai versi favoritnya sendiri. And it’s still the same song!
Malah Thom Yorke mengaku telah mengambil gaya vokal epic Jeff Buckley saat merekam album Radiohead “The Bends”. Of course we all steal, but then we made it in our own version of it. It was perfectly natural.
In life, we try to imitate our surroundings but we won’t be able to clone it perfectly. So we just improvise, it’s all we can do.
Add a comment