Here’s another victim of my GAS. Kalo yang ini saya beneran impulsif, tidak ada rencana sebelumnya, belum survey banyak, dan untungnya saya bisa dapet harga yang murah. Saat itu saya memang mencari mixer yang praktis untuk home recording.
Sembari menunggu barangnya datang, saya sempetin buat baca reviewnya. Salah satunya dari majalah Sound On Sound yang terpercaya dalam ‘menelanjangi’ audio gears.
Pada kisaran harga setaranya, mixer ini tidak banyak bedanya dengan produk dari brand lain, misalnya seperti Behringer yang merajai alat-alat kelas entry-level. Tapi saya rada pesimis terhadap brand itu.
Soundcraft cukup fokus di pasar audio mixer dan beberapa produknya cukup disegani oleh kalangan audio professionals. Wajar jika Soundcraft mencoba merilis produk Made-in-China untuk kalangan amatir. Yang saya lihat dari website-nya, Soundcraft Compact 4 masih diproduksi sejak lima tahun dirilis. Saya sedikit merasa lega karena produk ini laku di pasaran. (Update: produksinya ini dihentikan tahun 2009, diganti dengan tipe lain)
Kenapa saya butuh mixer untuk home-recording? Saya butuh multi-interface input/output. Sebelumnya saya pake Sony MX-P42 portable mixer, barang antik milik ayah saya. Masih berfungsi dengan kualitas preamp yang bersih dan VU meters, tapi hanya untuk sinyal balanced. Jadi kurang optimal untuk colokin gitar atau sinyal unbalanced dari sumber lain.
Bisa aja diakalin pake DI Box. Tapi saya tidak punya alat itu dan sekali lagi tidak akan membeli DI Box merk Behringer yang kacangan itu. Saya juga butuh fitur Hi-Z input untuk direct recording sinyal gitar karena soundcard ESI Juli@ saya tidak memiliki Hi-Z input.
Mixer analog tidak perlu dihubungkan ke komputer untuk dapat berfungsi.

Barangnya sudah datang ke rumah saya, tanpa manual-book karena si pengirim lupa masukin ke kardus! Tak mengapa karena interface-nya cukup mudah dimengerti. Jadi setup routing-nya seperti ini:
Source Signal > Channel Input > Record Out > Input Juli@ > DAW > Output Juli@ > Playback In > Monitor Out (atau bisa juga pake Main Out secara simultan).
Hampir tidak ada konektor yang mubazir! Mixer ini memang dirancang untuk situasi home-recording tipikal. Tapi meski begitu, mixer ini bisa juga digunakan untuk Live PA, Broadcast, DJ, atau setup lainnya.
Mixer ini juga tidak memiliki built-in effects berkualitas rendah seperti produk Behringer untuk menekan harga jual. Lebih baik saya gunakan efek-efek dari koleksi VST dan stompbox. Kualitas casing dari logam terlihat cukup tangguh untuk dibawa-bawa.
Di tiap channel, playback-level, mix-out, dan headphone ada tombol “monitor” yang sangat berguna untuk monitoring dan juga untuk rekaman zero latency. Saya sudah coba merekam gitar sambil playback di REAPER dengan buffer 1024 samples tanpa terasa latency.
Satu fitur penting lagi yang biasa dipakai saat mixing yaitu tombol MONO. Fitur ini hampir tidak ada di mixer kelas entry-level lainnya. Jadi kita bisa langsung mendengar hasil mono-mix kita dengan tombol itu.
Kenapa mono itu penting? Bukankah sekarang kita berada di era Surround 7.1? Karena tipikal hasil mixing lagu yang bagus adalah masih bisa didengar seimbang dan enak meski hanya dalam mono.
Saat ini masih banyak diproduksi alat-alat audio tanpa speaker stereo atau bahkan speaker yang dipasang secara acak, misalnya dalam mall, lift, atau angkot. Dalam lingkungan itu tidak akan terasa stereo-imagingnya. Itulah mengapa kita masih membutuhkan hasil mono.
Segala kelebihannya tentu masih ada kekurangannya:
Ini berfungsi sebagai alat komunikasi antara engineer dan musisi saat proses rekaman di ruangan yang berbeda. Biasanya untuk merekam vokal kita butuh ruangan yang sunyi terpisah dari control-room yang berisik oleh raungan bunyi CPU.
Tapi mungkin hal ini masih bisa diakalin dengan colokin microphone di channel lain untuk si engineer. Atau tinggal teriak aja kalo si vokalis cuma berada di kamar sebelah.
Saat puter knob gain-nya di posisi tertentu ada kerasa ‘loncat’ meski cuma diputer 1 milimeter. Ini kadang cukup merugikan dan bikin senewen.
Rada tidak lazim melihat indikator knob posisi 0 dB ada di posisi arah jam 2 ketimbang tepat di arah jam 12. Coba liat di area Channel Levels, Record Level, dan Main Out Level. Entah kenapa designer-nya bikin seperti itu.
Sayang tidak ada tempat untuk baterai meski alat ini beroperasi di tegangan 12 volt DC. Jadi rada susah jika ingin merekam di lingkungan antah berantah tanpa ada soket PLN.
Add a comment