Stone Temple Pilots Live at Jakarta
Hujan di hari Minggu pagi adalah momen bersantai sebelum beranjak dari tempat tidur. Tapi hujan ini sedikit membuat cemas karena Stone Temple Pilots (STP) akan tampil di arena terbuka PRJ Kemayoran, Jakarta. Nonton konser rock jangan takut hujan dan becek, pikir saya.
Sekitar pukul enam sore, saya sudah berada di area konser. Tidak ada keluhan macet atau susah parkir. Cuaca pun terlihat mendukung. Setelah melewati gerbang pertama adalah area santai sambil makan-minum dari kios dengan harga bukan standar pasaran.
Selintas terlihat karakteristik penonton yang melewati gerbang tersebut. Saya bukan ahli statistika, tapi uang yang dikeluarkan untuk menyaksikan konser band hard-rock yang relatif kurang populer dikalangan remaja seakan berfungsi sebagai filter antara die-hard fans yang ingin menikmati konser secara total dengan penonton yang sekedar eksis di acara musik.
Tampil beberapa band “penunggu” pada pukul tujuh di panggung sederhana yang terletak tepat di tengah area santai tersebut. Para band ini menemani orang-orang yang menunggu dibukanya gerbang kedua menuju panggung utama.
Salah satunya adalah Morfem, band project dari Jimi Multhazam (The Upstairs). Tapi saat Morfem tampil, pintu gerbang sudah dibuka, jadi beberapa penonton, termasuk saya, memilih untuk masuk ke area panggung utama. Saya masih menyimpan energi untuk STP malam ini.

Tujuh lagu dari The Flowers sebagai band pembuka membawa atmosfir ke Gang Potlot era ’90-an. Bongky Marcel (BIP, ex-Slank) diajak sebagai bassist mereka. Beberapa kali atraksi solo pemain saxophone mereka disambut dengan tepukan apresiatif. Penonton ikut bernyanyi bersama lagu hits lawas “Tolong Bu Dokter” hingga hits terakhir “Rajawali”.
Setelah Flowers selesai, panggung kembali sepi menunggu para kru STP bersiap-siap.
PRESS PLAY
Pukul sembilan, muncul Eric Kretz (drums), Robert DeLeo (bass), Dean DeLeo (guitar), dan Scott Weiland (vocal) dari Stone Temple Pilots langsung membawakan “Crackerman” dan “Wicked Garden” dari album debut mereka “Core” yang dirilis pada tahun 1992. Sayangnya, di zaman itu mereka masih dikritik sebagai penjiplak Pearl Jam.

Suhu semakin tinggi saat mereka membawakan lagu “Vasoline”, “Heaven and Hot Rods”, hingga single “Between The Lines” dari album terakhir mereka.
Telinga dan jantung saya dipacu oleh gebukan drum Eric dengan tempo emosional yang tidak monoton bak metronom. Namun masih tetap sinkron dengan permainan bass Robert yang solid dan dibalut oleh layered-crunch-tone gitar Dean. Langsung terasa kekompakan band ini sudah sangat matang.
Secara garis besar sound gitar Dean juga terdengar ada kesan jangly hasil dari gabungan ampli Vox AC30 dan setup rig lainnya yang terasa cut-through-the-mix tanpa mengganggu frekwensi instrumen lain.
Teknik permainan gitarnya nyaris tanpa cela. Dean tidak bergantung pada distorsi standar Marshall dan power chords seperti gitaris rock tipikal. Kemampuan tangan kirinya mengisi rhythm disertai sentuhan steel-slide dan alternate tuning di beberapa lagu terdengar melodius.

Aksi tangan kanannya juga variatif. Salah satunya seperti memetik senar dekat bridge gitar 1978 Gibson Les Paul Standard agar soundnya terdengar twangy. Begitu juga strumming ganjil a la country di lagu “Hickory Dichotomy”. Saat mendengarkan lagu ini, saya tidak menyangka Dean menggunakan teknik strumming unik seperti yang terlihat di panggung.
Menurut saya, Dean DeLeo adalah salah satu gitaris underrated di industri musik rock.
Gaya flamboyan Scott Weiland juga terlihat menarik. Fisiknya terlihat lebih sehat dan berisi. Kontras dengan tampilan dirinya saat masih bergabung dengan Velvet Revolver.
Memang Scott juga terkesan dingin karena tidak meluangkan waktu untuk sekedar menyapa fans-nya dengan logat bule “Apa kabar, Jakarta!” seperti tipikal band impor lainnya. Tapi Scott tetap berkonsentrasi untuk memberikan performa yang prima.
Sejak lama saya kagum dengan karakter vokal bunglon Scott Weiland yang bernuansa grunge, melankolis, atau bahkan sangat mirip dengan Jim Morrison dari The Doors.
Seperti yang bisa diduga, lagu-lagu hits STP yaitu “Big Empty”, “Plush”, dan “Interstate Love Songs” menjadi ajang karaoke massal penonton. Waktu yang tepat untuk bernyanyi bersama.

Rata-rata mereka memainkan lagu sesuai dengan durasi yang ada di album. Artinya hampir tanpa ada extended version dengan solo instrumen yang lama atau repetisi sepotong lirik yang sengaja diulang-ulang seperti konser musik pada umumnya.
Kecuali setelah membawakan 15 lagu, para personel STP meninggalkan panggung yang langsung disambut teriakan penonton “we want more!”. Ini adalah kode untuk encore. Tapi jeda waktu ini juga digunakan para kru untuk cek kondisi alat di panggung.
Sekitar jeda 5-10 menit kemudian, STP tampil membawakan dua lagu tambahan. Dan lagu “Trippin’ On A Hole In A Paper Heart” menjadi satu-satunya lagu dari album “Tiny Music..” yang dimainkan. Sekaligus juga menjadi lagu untuk menutup konser ini.
Setlist konser ini tidak berbeda dengan rangkaian tur STP saat ini di negara lainnya. Entah kenapa mereka tidak memainkan lagu favorit saya, “Big Bang Baby” atau satu lagu pun dari album “Shangri-La Dee Da”.
I’M NOT DEAD AND I’M NOT FOR SALE
Terbersit di benak saya isi tweet dari sang promotor bahwa STP membawa kargo 10 ton untuk konser ini. Saat itu saya sempat membayangkan konser ini akan disuguhi visual seperti video-screen atau properti panggung yang mewah. Tapi ternyata saya salah.
Visual panggung hanya terlihat backdrop artwork dari album terakhir STP. Lampu panggung juga terlihat dinamis tanpa eksploitasi efek lampu strobo seperti layaknya rave-party.
Hal yang perlu dicatat adalah tata suara panggung STP terdengar menakjubkan.
Saya juga teringat komentar miring rekan sejawat tentang artis-artis mancanegara yang dibawa ke Indonesia adalah mayoritas artis lama atau kelas dua yang sudah turun pamornya. Namun bagi saya, performa matang STP masih jauh dari kesan itu. Masih lebih baik dibanding grup rock yang mendapatkan heavy-rotation di radio dan TV saat ini.
Semoga Indonesia dapat menjadi tujuan wajib dari rangkaian tur musisi kelas dunia berikutnya.

konser yang keren, sound keren, ditambah nasi padang lebih mantap !
Nasi padang = Rock N’ Roll
:))