Di suatu kala, Robert Johnson berada di persimpangan jalan bertemu dengan iblis yang memberinya blues mojo. Iblis itu juga mengajarinya sebuah kata: “WARM”. Sejak itu seluruh musisi di dunia turut menggadaikan jiwanya untuk mencari ‘kehangatan’ tersebut.
Kisah legenda Robert Johnson di atas sudah tentu dipelintir oleh saya untuk memulai tulisan ini. Kita pasti pernah membaca, mendengar, dan memakai kata generik itu untuk mendeskripsikan karakter suara.
Tidak hanya untuk gitar, tapi juga seluruh aspek audio. Kata itu sering muncul meski tidak ada yang tahu persis artinya. Meski para cendekiawan audio telah melakukan tesis ilmiah, tapi teori itu belum tentu diyakini oleh seluruh musisi karena masing-masing mempunyai persepsi yang berbeda sesuai kapasitasnya.
Liciknya, tim sales & marketing sering mengeksploitasi kata tersebut untuk menjual produk mereka dan menyebar kebohongan, miskonsepsi, dan mitos ke para musisi.
Seorang composer, studio engineer, produser, dll. itu hampir sama seperti koki di dapur. Koki tersebut meramu, mengolah, dan menyempurnakan kemampuannya untuk menciptakan masakan yang paling nikmat. Tapi apa yang terjadi jika koki juara tersebut adalah Colonel Sanders? Resepnya hanya akan menimbun kolesterol meski rasanya “Maknyoos”.

Disuatu kala, seorang gitaris bermain dalam sebuah event yang diminati banyak orang. Saking ramainya sang gitaris tersebut bahkan tidak bisa mendengar permainannya sendiri. Oleh sebab itu muncul teknologi amplifikasi sinyal pada gitar.
Tidak berapa lama, gitaris tersebut semakin diminati oleh fans. Penonton semakin banyak, suasana semakin meriah, dan secara naluriah gitaris itu pun memaksimalkan kekuatan ampli gitarnya hingga overload untuk menyaingi keriuhan acara tersebut.
Namun ampli yang dipaksa bekerja overload itulah justru menciptakan tone baru yang dikenal sebagai overdrive, distortion, dan lainnya.
Teknologi amplifikasi yang ada pada saat itu menggunakan beberapa tabung elektroda. Tabung tersebut mempunyai wilayah frekwensi yang cukup sempit, sebelum akhirnya muncul teknologi solid-state (transistor) yang memiliki kejernihan suara yang superior ketimbang tabung.
Tapi justru banyak gitaris yang merasa kehilangan tone favoritnya apabila menggunakan solid-state. Oleh karena itulah teknologi tabung yang jadul itu masih menjadi favorit hingga saat ini.
Mungkin salah satu referensi otentik istilah “Warm” tersebut berasal dari suhu dan pendar cahaya dari tabung yang sedang beroperasi. Cara kerja tabung dalam mengolah sinyal itu terjadi secara non-linear menghasilkan distorsi harmonik yang bagus.
Beberapa engineer mencoba untuk mensimulasikan karakter overdrive tabung dengan sirkuit yang dirangkai ke dalam pedal stompbox atau alat lainnya.
Dalam sirkuit pedal overdrive kita mengenal istilah seperti symmetrical/asymmetrical clipping. Clipping berarti sinyal audio yang dipapas saat mencapai batas headroom pada proses pre-amp. Pada diagram di bawah ini, garis warna hitam menggambarkan sinyal asli tanpa distorsi dan garis warna merah adalah sinyal hasil clipping.

Symmetrical clipping itu berarti puncak (peak) kutub gelombang dipapas pada posisi yang simetris. Hasilnya seperti karakter pedal Ibanez TubeScreamer yang smooth dan creamy.

Asymmetrical clipping itu sinyal yang dipapas terlihat berbeda. Sudut clipping (knee) dari salah satu kutub gelombang berbeda dengan kutub lainnya. Karakter ini lebih menyerupai tabung yang non-linear. Tapi terdengar lebih ‘kasar’ seperti pedal BOSS SD-1.
Pada ampli tabung bertegangan tinggi, sudut yang terdengar tajam itu lebih diperhalus ketimbang ampli solid-state. Tapi teknologi solid-state lebih superior untuk menguatkan sinyal tanpa mudah terjadi clipping. Sehingga beberapa musisi jazz lebih senang menggunakan ampli solid-state seperti Roland Jazz Chorus.
Ada juga beberapa manufaktur yang mengklaim pedal stompbox mereka bisa menghasilkan karakter seperti ampli tabung. Padahal sirkuit mereka hanya memakai tabung kecil dan beroperasi pada tegangan rendah.
Apakah klaim tersebut dapat dipercaya?
Beberapa waktu lalu saya mencoba pedal Radial Tonebone Classic Distortion yang memiliki sebuah tabung kecil tipe 12AX7 di dalamnya. Tone yang dihasilkannya cukup berguna untuk rock n’ roll, tapi apakah tone tersebut muncul dari jasa sang tabung? Definetely not!

Gambar di atas adalah bagian sirkuit yang digunakan oleh Tonebone Classic. Bagian yang dilingkari warna merah itu awalnya ditutup oleh semacam lapisan untuk melindungi atau menyembunyikan komponen.
Foto di atas saya peroleh dari seseorang yang telah menguak tabir rahasia pedal tersebut. Ditemukanlah beberapa rangkaian diode! Bisa dilihat pedal ini menggunakan diode yang dirangkai untuk menghasilkan metode asymmetrical clipping.
Bahkan dari skema keseluruhannya terlihat bahwa tabung yang digunakan tidak berpengaruh apapun terhadap Gain. Mungkin ini juga latar belakang rilisan Radial Bones tanpa tabung.
Tulisan ini tidak bermaksud mendeskreditkan pedal stompbox seperti Radial Tonebone. It’s all about tone regardless of the marketing bullshit. Jika Anda ingin memiliki karakter tabung otentik, sebaiknya gunakan ampli dengan tabung bertegangan tinggi.
Bagaimana komentar Anda tentang alat berikut ini:
Add a comment
Archived old comments. Please use the new comment form.