Satu pertanyaan yang aneh. Mungkin semua orang bisa menjawabnya dan mungkin juga semua orang akan merasa bodoh jika bertanya hal ini. Hanya butuh beberapa orang yang bisa memainkan instrumen musik yang tidak kalian kuasai sendiri.
Setidaknya memiliki visi bermusikalitas yang sama, bisa tertawa dengan lelucon sektoral atau menjadi ajang mencari jodoh. Aktifitas dari nongkrong se-geng, iklan di koran yang mencari bakat baru untuk diorbitkan, ajang kompetisi, atau karena ter/dipaksa.

Ada yang menganggap nge-band itu sebagai kegiatan positif anak muda untuk mengisi waktu luang. Daripada nongkrong nggak jelas dan pake narkoba. Kata siapa? Coba, dateng dari mana tuh jargon Sex, Drugs & Rock n’ Roll.
Tidak semua band juga sih yang menganut paham SD&RnR itu. Tapi saya perhatikan kalo bikin band di zaman sekarang ini cobaannya sama berat dengan zaman dulu. Ketika musik rock masih dianggap musik sesat.
Zaman sekarang masih ada yang berpikiran seperti itu, tapi kali ini cobaannya ditambah dari para penikmat musik dan musisinya sendiri. Tidak hanya dicap sesat, kosakata juga bertambah: poser, sold-out, major, indie, manufactured, artificial, lip-sync, 4L4Y, dan lainnya.
Saya teringat pernah membaca tulisan yang membahas tentang seluk-beluk, how-to, tips & tricks, Do’s and Dont’s di industri musik. Mulai dari membentuk dan memilih nama band, mengasah skill, mencari lawyer, copyrights, royalti, major/indie label, promosi, tour, dll.
“Waduh, susah amat bikin band. Bukannya cukup bikin lagu, latihan, manggung, dan rekaman?”
Ini baru masalah eksternalnya aja. Ada lagi masalah internal band. Personil yang selalu telat datang, jadi junkie, menghamili anak orang, ego-maniak, atau jadi pegawai kantoran.

Misalnya seperti salah satu band lokal Bandung yang pernah di idolakan sebagai “pahlawan indie-label/underground“, kemudian dilupakan fansnya satu persatu sejak ditinggal drummer lamanya, merekrut drummer baru yang norak, dan menyanyikan lagu bareng Tere.
Gaya rambut sang vokalis pun nggak akan membantu band itu meraih fans lamanya. Sebuah band harus memilih jalan yang terbaik untuk terus berkarya. Tapi untuk kepuasan siapa?
Ini berlaku buat band-band tematik (buat yang malas dengan istilah trendi). Saya tidak tahu bagaimana perasaan The Rolling Stones ketika banyak band baru yang mengkloning gaya mereka. Akhirnya The Rolling Stones pun merilis album baru dengan konsep lama meski gaungnya tidak seheboh band-band baru itu.
Sangat kecil kemungkinan band tematik itu yang bakal bertahan lama seperti The Rolling Stones. Jadi gimana dong nasib band-band tematik itu? Bisa jadi mereka mengikuti tema berikutnya dengan dalih eksplorasi, ada yang bersolo-karir, berperan di balik layar, atau menjadi ayah alkoholik.

I’m not finished yet, masih ada Faktor Z, dan ini rada canggung. Ada pula band yang melek situasi. Mereka anti-trend. Anti-genre. Jurnalis musik membuat nama-nama genre yang absurd, nggak nyambung, dan konyol karena kebingungan mencerna jenis musiknya.
Ada beberapa musisi yang masuk Faktor Z ini. Yaitu mereka yang jenius (atau mencoba menjadi jenius), musisi yang terisolasi dari budaya mainstream, dan musisi yang masih kebingungan mencari jati dirinya. Band yang bernaung dibawah faktor Z ini masih punya sedikit gengsi karena mereka beda dari yang lain. Walaupun tidak banyak orang yang tahu/suka/mengerti musik mereka.
Jika tujuan membentuk band bagi mereka hanya sebagai side-job atau sekedar hobi mungkin tidak jadi masalah. Tetapi saya meragukan hal tersebut untuk dijadikan mata pencaharian pokok. Di Indonesia pula!
Jadi, kenapa sih harus bikin band? Saya malas menjawab, karena kalian sudah tahu jawabannya. Dan jawaban itu yang harus kalian pegang teguh. Sebodo amat apakah band kalian sold-out, poser, atau stay true till death do us apart. Jika band tidak memuaskan kalian.. solo-karir aja.
Add a comment
Archived old comment. Please use the new comment form.